-->

Tokoh-Tokoh Wali Songo part 1



Tokoh-Tokoh Wali Songo

Sunan Ampel

            Sunan Ampel putra Syaikh Ibrahim As-Samarkandi adalah tokoh Wali Songo tertua yang berperan  besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara. Melalui pesantren Ampeldenta, Sunan Ampel mendidik kader-kader penggerak dakwah Islam seperti Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Dengan cara menikahkan juru dakwah Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit, Sunan Ampel membentuk keluarga-keluarga muslim dalam suatu jaringan kekerabatan yang menjadi cikal-bakal dakwah Islam di berbagai daerah. Sunan Ampel sendiri menikahi putri Arya Teja, Bupati Tuban, yang juga cucu Arya Lembu Sura Raja Surabaya yang muslim. Jejak dakwah Sunan Ampel tidak hanya di Surabaya dan ibukota Majapahit, melainkan meluas sampai ke daerah Sukadana di Kalimantan.
            Sunan Ampel yang makamnya terletak di kampung Ampel, kota Surabaya adalah anggota dewan Wali Songo tertua yang berperan besar dalam menjalankan misi menyebar ajaran agama Islam di Nusantara. Dalam sumber cerita lokal dututurkan bahwa Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke Jawa bersama saudara tuanya, Ali Musada (Ali Murtadha).
            Kedatangan Sunan Ampel ke Nusantara diperkirakan pada abad ke-15 Masehi. Bermula sejak beliau menjadi tamu Adipati Palembang ketika itu Arya Damar, selama dua bulan. Beliau berusaha memperkenalkan Islam pada Adipati Arya, namun Adipati Arya menahan diri untuk memeluk Islam sekalipun dia mulai tertarik pada Islam. Beliau masih khawatir dengan keadaan masyarakat setempat yang belum tersentuh oleh ajaran Islam. Menurut cerita setempat, Arya Damar mengganti namanya dengan Aryo Abdillah setelah ia masuk Islam.
Setelah mendengar ada peperangan di tanah Jawa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) bersama tiga Pandhita Muda lainnya , Burereh (Abu Hurairah), Seh Salim, dan Ali Musada berangkat ke tanah Jawa. Mereka berlabuh di Tuban. Pada awal dasawarsa keempat mereka mulai datang ke Majapahit. Tak lama setelah mereka sampai di Jawa, yaitu pada 1446, Champa dijatuhkan oleh serbuan Vietnam, yaitu kerajaan Koci. Dalam Serat Walisana dikisahkan bahwa Prabu Brawijaya melarang Raden Rahmat untuk kembali ke Champa karena sudah rusak akibat serangan kerajaan Koci.
Diriwayatkan dalam Babad Ngampeldenta bahwa Raden Rahmat resmi diangkat sebagai imam di Surabaya oleh Raja Majapahit Prabu Brawijaya. Menurut catatan H.J. De Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud (1986), yang mengangkat Raden Rahmat menjadi imam Masjid di Surabaya adalah pejabat Pecat Tandha di Terung bernama Arya Sena. Selain peresmian tersebut, juga ada penyerahan keluarga-keluarga terpercaya Majapahit kepada Sunan Ampel untuk dipimpin.
Gerakan dakwah yang dijalankan oleh Sunan Ampel adalah membentuk jaringan kekerabatan melalui pernikahan-pernikahan. Melalui kekerabatannya dengan para penguasa membuatnya leluasa menyebarkan ajarannya Islam. Belaiu banyak menikahkan para penyebar agama Islam dengan kerabatnya yang duduk di kursi kekuasaan. Beliau memiliki hubungat dekat dengan adipati Surabaya Arya Lembu Sura. Arya Lembu Sura adalah mertua Prabu Brawijaya yang juga menikahi bibi Sunan Ampel. Inilah sebabnya Sunan AMpel dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban, Arya Teja yang merupakan menantu Arya Lembu Sura. Dampaknya adalah pengangkatan Sunan Ampel sebagai pengganti Arya Lembu Sura menjadi bupati Surabaya.
Kedudukannya sebagai bupati menambah keleluasaannya menyambung jaringan. Beliau menikahkan kerabatnya Khalifah Usen Kubro dengan putri Arya Baribin adipati Madura untuk menyebar Islam di sana, mulai dari Sumenep sampai Blega, Bangkalan. Selain dengan para penguasa, Sunan Ampel juga menikahkan putrinya, Murtosiyah dengan Raden Paku (Sunan Giri) dan Murtosimah dengan muridnya Raden Patah yang kemudian menjadi adipati Demak.
Selain mengajarkan santri-santrinya membaca Al-Quran, Sunan Ampel juga mengajarkan kitab-kitab berisi ilmu syariat, thariqat, dan hakikat. Beliau memberikan ajaran secara esoteris kepada Sunan Giri, yaitu ilmu Tasawuf yang didasarkan pada ilmu Kalbu. [1]

Sunan Giri

            Sunan Giri putra Syaikh Maulana Ishak adalah tokoh Wali Songo yang berkedudukan sebagai raja sekaligus guru suci (pandhita ratu). Ia memiliki peran penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara dengan memanfaatkan kekuasaan dan jalur perniagaan. Sebagaimana guru dan mertuanya, Sunan Ampel, Sunan Giri mengembangkan Pendidikan dengan menerima murid-murid dari berbagai daerah di Nusantara. Sejarah mencatat, jejak dakwah Sunan Giri beserta keturunannya mencapai daerah Banjar, Martapura, Pasir, dan Kutai di Kalimantan, Buton dan Gowa di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, Bahkan kepulauan Maluku.[2]
            Dalam Serat Walisana bapak Sunan Giri adalah Pangeran Raden Wali Lanang (Sayid Yakub), sedangkan ibunya Retno Sabodi, putri Prabu Sadmuddha. Keluarga dari pihak ibu Sunan Giri adalah keturunan Raja Blambangan. Bahkan, nama Giri yang dikaitkan dengan nama daerah di Gresik mempunyai hubungan dengan ibukota Blambangan saat itu, Giri (sekarang kecamatan Giri, Banyuwangi).
            Sunan Giri sudah ditinggal wafat ibunya sejak kelahirannya. Di masa kecilnya, kelahiran beliau oleh Raja Blambangan kala itu dianggap penyebab munculnya wabah yang melanda masyarakat Blambangan. Oleh karena itu, Sunan Giri dihanyutkan ke laut menuju Bali. Namun, keranjang yang membawanya hanyut tersangkut di kapal Nyi Pinatih, seorang janda kaya dari Gresik yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Setelah Nyai Pinatih mengasuhnya sampai cukup umur, Sunan Giri dikirim ke Ampel untuk belajar agama. Di sanalah beliau mendapat julukan dari Sunan Ampel dengan sebutan Raden Paku. Sunan Giri belajar agama pada Sunan Ampel dan berteman akrab dengan putranya, Raden Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang).
            Suatu saat Sunan Giri dan Sunan Bonang berencana berangkat ke Mekkah untuk mendalami ilmunya sekaligus melaksanakan haji. Namun, keduanya hanya sampai di Malaka dan bertemu dengan Maulana Ishak, yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai ayah kandung Sunan Giri. Di sana mereka belajar agama pada ayah Sunan Giri, termasuk ilmu tasawuf. Kemudian berdirilah aliran tarekat Syathariyah yang mana Syeikh Maulana Ishak dan Sunan Giri sendiri adalah guru besarnya.
            Sunan Giri melakukan dakwah islam melalui Pendidikan. Beliau membangun sistem pendidikan pesantren, yang mana tersebar di berbagai daerah di Nusantara, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Lombok, Sumbawa, Ternate, Tidore, Kalimantan, Makassar, Sumba, Flores, dan Hitu. Beliau juga membangun sistem kemasyarakatan terbuka dengan menciptakan permainan-permainan edukatif bagi anak-anak, seperti Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit, dan menggubah tembang-tembang permainan anak-anak, seperti Padang Bulan, Jor, Gula Ganti, dan Cublak-Cublak Suweng. Tembang yang terpopuler di kala itu adalah metrum Asmaradhana dan Pucung, yang mengandung ajaran ruhani yang tinggi.
            Selain dunia Pendidikan, Sunan Giri juga menduduki kursi kekuasaan di Gresik kala itu. Beliau memiliki gelar Prabu Satmata. Dengan kekuasaan ini, tentu upaya untuk menyebarkan agama Islam akan lebih mudah. Menurut M. Ali (1963), peran raja-raja dalam membantu usaha dakwah Wali Songo sangat besar, yang salah satu di antara raja-raja tersebut adalah Sunan Giri. Oleh karena dua jabatan yang merangkap dalam diri Sunan Giri, Sunan Ampel menjulukinya dengan Pandhita Ratu (Jawa Kuno; pandhita: ruhaniwan, ratu: raja).

Sunan Bonang

            Sunan Bonang adalah putra keempat Sunan Ampel dari pernikahan dengan Nyai Ageng Manila putri Arya Teja Bupati Tuban. Sunan Bonang dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang ulung dalam berdakwah dan menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan. Dakwah awal dilakukan Sunan Bonang di daerah Kediri yang menjadi pusat ajaran Bhairawa-Tantra. Dengan membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri, Sunan Bonang mengembangkan dakwah Islam di pedalaman yang masyarakatnya masih menganut ajaran Tantrayana. Setelah meninggalkan Kediri, Sunan Bonang berdakwah di Lasem. Beliau dikenal mengajarkan Islam melalui wayang, tasawuf, tembang, dan sastra sufistik. Karya sastra sufistik yang digubah Sunan Bonang dikenal dengan nama Suluk Wujil.[3]
            Dalam Babad Daha-Kediri dikisahkan bahwa pada awal dakwahnya, Sunan Bonang merupakan sosok dai yang keras. Selain pernah menghancurkan arca orang Hindu, beiau juga sering berhadapan dengan masyarakat dalam konflik yang memicu pertentangan, bahkan kontak fisik. Kegagalan Sunan Bonang berdakwah di Kediri ditandai dengan datangnya Raja Giri (Sunan Prapen) pada 1548 M, yang membakar kota Daha pada 1551. Pada 1577 M kerusuhan terjadi dari kalangan muslim yang mengepung kaum kafir Kediri menimubulkan hilangnya adipati Kediri bernama Arya Wiranatapada bersama putrinya yang diduga memeluk agama islam, yang mana adipati tersebut dalam sejumlah sumber dari Drajat Lamongan adalah mertua Sunan Drajat.
            Setelah kegagalannya berdakwah di Kediri, Sunan Bonang pergi ke Dema katas panggilan Pangeran Ratu (Raden Patah) ke demak untuk menjadi imam masjid di sana, tepatnya di desa Bonang, di mana gelar “Sunan Bonang” itu berasal dan dinisbatkan kepadanya yang bernama asli Pangeran Mahdum Ibrahim. Setelah beberapa lama beliau menjadi imam di masjid Demak, barulah beliau pindah dan tinggal di Lasem.
            Dalam berdakwah, yang semulanya keras, kemudian Sunan Bonang dikenal kental dengan kesenian dan kebudayaan sebagai wahana dakwahnya. Salah satu seni yang paling dikenal ialah gamelan Jawa yang disebut Bonang. Menurut Poedjosoebroto (1978), “Bonang” berasal dari dua kata, “bon” dan “nang”, yaitu babon menang atau baboning kemenangan, yang artinya “induk kemenangan”. Bonang adalah alat music yang terbuat dari kuningan berbentuk bulat dengan tonjolan di tengahnya, mirip gong dalam ukuran kecil. Dahulu, Bonang ini selain dipakai sebagai pengiring pagelaran wayang juga dipakai untuk memanggil warga untuk berkumpul.
            Selain lihai dalam musik gamelan, Sunan Bonang juga lihai bahkan menguasai cerita pewayangan. Beliau juga banyak memodifikasi dan menambahkan tokoh dalam pewayangan, yang dikenal dengan ricikan (kuda, gajah, harimau, garuda, kereta perang, dan rampogan). Beliau juga mahir di bidang sastra Jawa, sehingga beliau mampu menggubah tembang mocopat. Salah satu tembangnya yang termasyhur ialah Kidung Bonang. Semua karyanya tidak lain adalah sarana untuk menyampaikan ajaran ruhani yang amat dalam agar Islam bisa masuk ke dalam sanubari masyarakat tanpa ada paksaan sebagaimana kegagalan yang terjadi sebelumnya.

Sunan Kalijaga

            Sunan Kalijaga adalah putra Tumenggung Wilatikta Bupati Tuban. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termasyhur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai dalam mendalang, melainkan dikenal pula sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon carangan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung pulau Jawa.[4]
            Nama aslinya adalah Raden Sahid. Beliau dikenal dengan beberapa sebutan, yaitu Syeikh Melaya, Lokajaya, Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban, dan Ki Dalang Sida Brangti. Nama-nama tersebut memberi tanda bahwa Sunan Kalijaga telah mengalami banyak proses dalam kehidupannya.
            Sunan kalijaga adalah cucu Bupati Tuban, Arya Teja yang bernama asli Abdurrahman. Abdurrahman berhasil mengislamkan bupati Tuban sebelumnya bernama Arya Dikara, kemudian beliau menikahi putrinya. Dari hasil pernikahannya dengan putri Arya Dikara, lahirlah seorang putra yang diberi nama Arya Wilatikta (ayah Sunan Kalijaga). Abdurrahman mengganti Namanya dengan Arya Teja ketika beliau menggantikan posisi mertuanya di kebupatian.
            Masa muda Sunan Kalijaga adalah masa yang amat suram. Beliau adalah pemuda yang nakal. Kenalakannya meliputi pencurian, minum minuman keras, berjudi dan lain sebagainya sampai pada puncak kemarahannya, orangtua Sunan Kalijaga mengusirnya. Kendati pun diusir, justru menambah kenakalannya menjadi lebih besar. Beliau melakukan banyak kejahatan sampai beliau dikenal sebagai penguasa suatu daerah. Di sinilah beliau dijuluki Lokajaya (loka: wilayah, jaya: menang). Kenakalan beliau berakhir ketika beliau bertemu Sunan Bonang dan hendak merampok bawaannya. Sunan Bonang menunjukkan kesaktian dengan mengubah buah aren menjadi emas. Dari kekaguman Sunan Kalijaga atas kesaktiannya, beliau langsung berguru pada Sunan Bonang. Proses bergurunya Sunan Kalijaga pada Sunan Bonang dengan seluruh ketaatannya itu mengantarkan Sunan Kalijagi menuju jalan kewalian.
            Setelah Sunan Kalijaga dinobatkan sebagai wali, maka beliau mulai berdakwah. Dakwah Sunan Kalijaga berawal di Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga. Beliau berdakwah di sana untuk mengislamkan Indramayu dan Pamanukan. Mula-mula Sunan Kalijaga menyamar sebagai pembersih masjid Sang Cipta Rasa. Di sana beliau bertemu Sunan Gunung Jati yang kemudian menikah dengan putrinya, Siti Zaenab.
            Sebagaimana wali lainnya, Sunan Kalijaga melakukan dakwah lewat pendekatan budaya dan seni, terutama dalam bidang pewayangan yang sangat digemari masyarakat setempat. Dalam keliahaiannya bermain wayang, Sunan Kalijaga dikenal sebagai dalang yang selalu menggunakan nama samara. Di Pajajaran, beliau dikenal dengan sebutan Dalang Sida Brangti. Di Tegal, dikenal dengan Ki Dalang Bengkok.. di daerah Purbalingga dikenal dengan nama Ki Dalam Kumendung, dan sebagainya.

Sunan Gunung Jati

            Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Sultan Hud yang berkuasa di wilayah Bani Israil, yang masuk wilayah Mesir. Sunan Gunung Jati dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang menurunkan sultan-sultan Banten dan Cirebon. Strategi dakwah yang dijalankan Sunan Gunung Jati adalah memperkuat kedudukan politis sekaligus memperluas hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon, Banten, dan Demak melalui pernikahan. Selain itu, Sunan Gunung Jati menggalang kekuatan dengan menghimpun orang-orang yang dikenal sebagai tokoh yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan.[5]
            Pada awal dakwahnya dimulai di Gunung Sembung dengan memakai nama Sayyid Kamil.  Sunan Gunung Jati berdakwah di sana melalui Pendidikan. Dengan bantuan H Abdullah Iman (Pangeran Cakrabuana, Kuwu Caruban), Beliau membangun Pesantren dan namanya disebut Syeikh Jati atau Maulana Jati. Tak lama Ki Dipati bersama Sembilan puluh delapan pengikutnya datang pada beliau untuk menjadi pengikutnya.
            Tidak berbeda dari Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati menggunakan teknik membangun jaringan kekerabatan dengan jalur pernikahan. Beliau dikisahkan menikahi tidak kurang dari enam orang perempuan. Yang pertama dengan Nyai Babadan, putri Ki Gedeng Babadan, yang membuat pengaruhnya meluas dari Gunung Sembung hingga Babadan. Namun, Nyai Babadan meninggal sebelum dikaruniai putra.

Sunan Drajat

            Sunan Drajat (Raden Qasim) adalah putra bungsu Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, dan adik Sunan Bonang. Sunan Drajat dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang mengembangkan dakwah Islam melalui Pendidikan akhlak bagi masyarakat. Sunan Drajat dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib fakir-miskin. Sunan Drajat mendidik masyarakat sekitar untuk memperhatikan nasib fakir-miskin , mengutamakan kesejahteraan umat, memiliki empati, etos kerja keras, kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas social, dan gotong-royong. Sunan Drajat juga mengajarkan kepada masyarakat Teknik-teknik membuat rumah dan membuat tandu.[6]


[1] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 178-188
[2] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 200
[3] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 218
[4] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 244
[5] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 268
[6] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 290

0 Response to "Tokoh-Tokoh Wali Songo part 1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel