-->

Sejarah Wali Songo


Sejarah Wali Songo

Sekitar Makna Walisongo

            Bagi Masyarakat muslim Indonesia, sebutan Walisongo memiliki makna khusus yang dihubungkan dengan keberadaan tokoh-tokoh keramat di Jawa, yang berperan penting dalam usaha penyebaran dan perkembangan Islam pada abad XV dan XVI Masehi. Menurut Solichin Salam dalam Sekitar Walisongo, kata Walisongo merupakan kata majemuk yang berasaldari kata wali dan songo. Kata wali dapat berbentuk fa’il dengan makna maf’ul, sebagaimana firmanALlah, “Dan Dia melindungi (yatawalla) orang-orang saleh”, (QS. Al-A’raf [7]: 196). Wali juga bisa berbentuk fa’il dan bermakna setara fa’il, dengan tekanan bahwa manusia menjaga diri untuk tetap taat kepada Allah dan memenuhi kewajiban-kewajiban kepada-Nya. Dengan demikian, dalam makna pasif wali menunjuk pada ‘orang-orang yang diinginkan Tuhan’ (murad), dan secara aktif memiliki makna ‘orang-orang yang menginginkan Tuhan’ (murid). Kedua makna tersebut menggambarkan adanya hubungan timbal balik antara manusia denga Tuhan, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka adalah sahabat (wali) Allah, dan Allah adalah sahabat (wali) mereka.
            Dari uraian makna tersebut, ada petunjuk bahwa Allah mempunyai hamba-hamba yang secara khusus dilindungi yang dicirikan dengan persahabatan-Nya dan dengan anugerah-Nya berupa keajaiban (karamah) yang bersifat supranatural. Kaum sufi berpendapat bahwa karamah dianugerahkan kepada seorang wali selama ia tidak melanggar kewajiban-kewajiban hukum agama. Karamah adalah tanda kelurusan seorang wali. Karamah dianugerahkan kepada para wali dengan tidak melebihi derajat mukjizat para nabi. Para wali tidaklah terpelihara dari dosa (ma’shum) sebagamana para rasul, tapi para wali terjaga (mahfudh) dari kemaksiatan dan keburukan lainnya. Kewalian melibatkan ketaatan yang tiada henti. Kewalian seseorang akan batal jika terlintas di benaknya untuk berbuat dosa besar.[1]
            Menurut Solichin Salam dalam Sekitar Wali Songo. Kata wali berasal dari bahasa Arab, suatu bentuk singkatan dari waliyullah, yang memiliki arti ‘orang yang dicintai dan mencintai Allah’. Sedangkan songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘sembilan’. Jadi, Wali Songo berarti ‘sembilan wali’, yakni ‘orang yang mencintai dan dicintai Allah’. Mereka dipandang sebagai ketua kelompok dari kalangan mubaligh yang bertugas mengadakan dakwah Islam di daerah-daerah yang belum memeluk Islam di Jawa.
            Berbeda dari Solichin Salam, Prof. K.H.R. Moh. Adnan berpendapat bahwa kata songo dalam Wali Songo adalah bentuk perubahan dari kata yang berasal dari bahasa Arab, tsana (mulia), setara dengan mahmud (terpuji), sehingga pengucapan yang benar adalah Wali Sana yang berarti ‘wali-wali yang terpuji’. Pendapat lain yang senada dengan pendapat Prof. K.H.R. Moh. Adnan ini adalah pendapat R. Tanojo dalam kitab Walisana. Perbedaannya terletak pada asal kata sana, yang mana kata tersebut tidak berasal dari bahasa Arab sebagaimana pendapat sebelumnya. Sana berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti tempat, daerah, wilayah. Dengan penafsiran yang demikian, Walisana dapat diartikan dengan ‘pelindung suatu wilayah’. Dalam kapasitas sebagai penguasa di suatu wilayah tertentu, Walisana diberi sebutan sunan, susuhunan, sinuhun, dengan disertai sebutan kanjeng, kependekan dari kang jumeneng, pangeran, sebutan yang lazim diterapkan bagi raja atau penguasa pemerintahan di Jawa. Menurut kitab Walisana, wali-wali yang disebut dengan sebagai Walisana itu tidak berjumlah sembilan, melainkan hanya delapan.[2]


[1] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 42-44
[2] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 130-133

0 Response to "Sejarah Wali Songo "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel