sejarah kerajaan demak
1.
Letak Geografis
Kerajaan
Demak Secara geografis Kerajaan Demak terletak di daerah Jawa
Tengah, tetapi pada awal kemunculannya Kerajaan Demak mendapat bantuan dari
para bupati daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut agama
Islam. Wilayah Kerajaan Demak pada awalnya hanya sebuah bawahan Kerajaan
Majapahit, kemudian berkembang hingga mencapai Banten di Barat dan Pasuruan di
Timur. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari
dari laut dan dinamakan Bintara (dibaca "Bintoro" dalam bahasa Jawa),
saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Periode ketika beribukota di
sana kadang-kadang dikenal sebagai "Demak Bintara". Pada masa sultan
ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata.
2.
Gambaran
Kehidupan Politik Pemerintahan dari Kerajaan Demak
A.
Raden Patah (1500-1518) Raden Patah
adalah pendiri dan sultan pertama dari kerajaan Demak yang memerintah tahun
1500-1518. Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra prabu Brawijaya
raja terakhir. Di ceritakan prabu Brawijaya selain kawin dengan Ni Endang
Sasmitapura, juga kawin dengan putri cina dan putri campa. Karena Ratu
Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa merasa cemburu, prabu
Brawijaya terpaksa memberikan putri Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya
Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah, setelah itu putri Cina
dinikahi Arya Damar, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama
Raden Kusen. Demikianlah Raden Patah dan Raden Kusen adalah saudara sekandung berlainan
bapak. Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden
Patah masih muda adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi)
atau disebut juga prabu Brawijaya V dari selir Cina. Babad Tanah Jawi
menyebutkan, Raden Patah dan Raden Kusen menolak untuk menuruti kehendak orang
tuanya untuk menggantikan ayahnya sebagai adipati di Palembang. Mereka lolos
dari keraton menuju Jawa dengan menumpang kapal dagang. Mereka berdua mendarat
di Surabaya, lalu menjadi santri pada Sunan Ampel.
Raden Patah tetap tinggal di Ampel Denta, kemudian dipungut sebagai menantu Sunan Ngampel,
dikawinkan dengan cucu perempuan, anak sulung Nyai Gede Waloka. Raden Kusen
kemudian mengabdi pada prabu Brawijaya di Majapahit. Raden Kusen diangkat
menjadi adipati Terung, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah, di situ ia
membuka hutan Glagahwangi atau hutan Bintara menjadi sebuah pesantren dan Raden
Patah menjadi ulama di Bintara dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk
sekitarnya. Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Prabu Brawijaya di Majapahit
khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah
diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah. Raden
Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan
akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat
sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu
kota bernama Bintara. Menurut kronik Cina, Jin Bun alias Raden Patah pindah
dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477
sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi di Majapahit resah. Namun,
berkat bujukan Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel), Kung-ta-bu-mi bersedia
mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di
Bing-to-lo atau Bintara. Dalam waktu yang singkat, di bawah kepemimpinan Raden
Patah, lebih-lebih oleh karena jatuhnya Malaka ke tangan portugis dalam tahun
1511, Demak mencapai puncak kejayaannya. Dalam masa pemerintahan Raden Patah,
Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perluasan dan
pertahanan kerajaan, pengembangan islam dan pengamalannya, serta penerapan
musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa). Keberhasilan Raden
Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia
menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga
dapat menggambil alih kekuasaan majapahit. Selain itu, Raden Patah juga
mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu
demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Adipati
Unus atau Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal.
Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan
ayahnya pada tahun 1518. Dalam bidang dakwah islam dan pengembangannya, Raden
patah mencoba menerapkan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain
itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang
terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya
oleh walisanga.
B.
Adipati Unus (1518 - 1521)
Pada tahun 1518 Raden Patah wafat kemudian digantikan putranya
yaitu Adipati Unus. Adipati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan
pernah memimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka. Karena keberaniannya
itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang lor. Tome Pires dalam bukunya
Suma Oriental menceritakan asal-usul dan pengalaman Adipati
Unus. Dikatakan bahwa nenek Adipati Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya. Ia merantau ke Malaka dan
kawin dengan wanita Melayu. Dari perkawinan itu lahir ayah Adipati Unus, ayah Adipati Unus kemudian kembali ke Jawa dan menjadi penguasa di Jepara.
Setelah dewasa beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan
Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Adipati Unus resmi diangkat
menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena
ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul
Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra
Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Adipati
Unus. Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Hal ini
membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin
mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil,
ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka gagal
dan balik kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi
pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka
direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah
Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal. Di
tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat,
beliau berwasiat supaya mantu beliau Adipati Unus
diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden
Abdul Qadir bin Yunus. Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak
dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung
Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang.
Dipimpin langsung oleh Adipati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan
Demak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan
Demak akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah.Kapal yang ditumpangi
Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke
pantai. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang
tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan
rempah-rempah. Sedangkan Adipati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat
dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara.
Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil
alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan
disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil
alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang
sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor
dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.
C.
Sultan Trenggono (1521 - 1546)
Sultan Trenggono adalah Sultan Demak yang ketiga, beliau memerintah
Demak dari tahun 1521-1546 M. Sultan Trenggono adalah putra Raden Patah pendiri
Demak yang lahir dari permaisuri Ratu Asyikah putri Sunan Ampel. Menurut Suma
Oriental, ia dilahirkan sekitar tahun 1483. Ia merupakan adik kandung Pangeran
Sabrang Lor, raja Demak sebelumnya (versi Serat Kanda). Sultan Trenggono
memiliki beberapa orang putra dan putri. Diantaranya yang paling terkenal ialah
Sunan Prawoto yang menjadi raja penggantinya, Ratu Kalinyamat yang menjadi
bupati Jepara, Ratu Mas Cempaka yang menjadi istri Sultan Hadiwijaya, dan
Pangeran Timur yang berkuasa sebagai adipati di wilayah Madiun dengan gelar
Rangga Jumena. Sultan Trenggana Wafat/Mangkat Berita Sultan Trenggono wafat
ditemukan dalam catatan seorang Portugis bernama Fernandez Mendez Pinto. Pada
tahun 1546 Sultan Trenggono menyerang Panarukan, Situbondo yang saat itu
dikuasai Blambangan. Sunan Gunung Jati membantu dengan mengirimkan gabungan
prajurit Cirebon, Banten, dan Jayakarta sebanyak 7.000 orang yang dipimpin
Fatahillah. Mendez Pinto bersama 40 orang temannya saat itu ikut serta dalam
pasukan Banten. Pasukan Demak sudah mengepung Panarukan selama tiga bulan, tapi
belum juga dapat merebut kota itu. Suatu ketika Sultan Trenggono bermusyawarah
bersama para adipati untuk melancarkan serangan selanjutnya. Putra bupati
Surabaya yang berusia 10 tahun menjadi pelayannya. Anak kecil itu tertarik pada
jalannya rapat sehingga tidak mendengar perintah Trenggono. Trenggono marah dan
memukulnya. Anak itu secara spontan membalas menusuk dada Trenggono memakai
pisau. Sultan Demak itu pun tewas seketika dan segera dibawa pulang
meninggalkan Panarukan. Sultan Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa
Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggana, Demak mulai menguasai
daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta
menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527),
Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan,
kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang
Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga
menjadi menantu Sultan Trenggana. Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546
dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh
Sunan Prawoto
D.
Sunan Prawata (1546 – 1549)
Sunan Prawata adalah nama lahirnya (Raden Mukmin) adalah raja
keempat Kesultanan Demak, yang memerintah tahun 1546-1549. Ia lebih cenderung
sebagai seorang ahli agama daripada ahli politik. Pada masa kekuasaannya,
daerah bawahan Demak seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik, berkembang
bebas tanpa mampu dihalanginya. Menurut Babad Tanah Jawi, ia tewas dibunuh oleh
orang suruhan bupati Jipang Arya Penangsang, yang tak lain adalah sepupunya
sendiri. Setelah kematiannya, Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan ke
Pajang, dan Kesultanan Demak pun berakhir. Sepeninggal Sultan Trenggana yang
memerintah Kesultanan Demak tahun 1521-1546, Raden Mukmin selaku putra tertua
naik tahta. Ia berambisi untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau
Jawa. Namun, keterampilan berpolitiknya tidak begitu baik, dan ia lebih suka
hidup sebagai ulama daripada sebagai raja. Raden Mukmin memindahkan pusat
pemerintahan dari kota Bintoro menuju bukit Prawoto. Lokasinya saat ini
kira-kira adalah desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Oleh karena itu, Raden Mukmin pun terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto.
Pemerintahan Sunan Prawoto juga terdapat dalam catatan seorang Portugis bernama
Manuel Pinto. Pada tahun 1548, Manuel Pinto singgah ke Jawa sepulang mengantar
surat untuk uskup agung Pastor Vicente Viegas di Makassar. Ia sempat bertemu
Sunan Prawoto dan mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa, serta
ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan Prawoto juga berniat menutup jalur
beras ke Malaka dan menaklukkan Makassar. Akan tetapi, rencana itu berhasil
dibatalkan oleh bujukan Manuel Pinto. Cita-cita Sunan Prawoto pada kenyataannya
tidak pernah terlaksana. Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada
mempertahankan kekuasaannya. Satu per satu daerah bawahan, seperti Banten,
Cirebon, Surabaya, dan Gresik, berkembang bebas; sedangkan Demak tidak mampu menghalanginya.
3.
Gambaran Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak
Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa
letak Demak sangat strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak
berkembang sebagai kerajaan maritim. Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan
sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan
penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan
Demak semakin berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak
terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa. Sebagai
kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga
memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil
pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya
ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di
bidang ekonomi. Letak kerajaan Demak yang strategis , sangat membantu Demak
sebagai kerajaan Maritim. Lagi pula letaknya yang ada di muara sungai Demak
mendorong aktivitas perdagangan cepat berkembang. Di samping dari perdagangan,
Demak juga hidup dari agraris. Pertanian di Demak tumbuh dengan baik karena
aliran sungai Demak lewat pelabuhan Bergota dan Jepara. Demak bisa menjual
produksi andalannya seperti beras, garam dan kayu jati.
4.
Gambaran Kehidupan Sosial-Budaya masyarakat pada masa Kerajaan
Demak
Berdirinya kerajaan Demak banyak didorong oleh latar belakang untuk
mengembangkan dakwah Islam. Oleh karena itu tidak heran jika Demak gigih
melawan daerah-daerah yang ada dibawah pengaruh asing. Berkat dukungan Wali
Songo , Demak berhasil menjadikan diri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa
yang memiliki pengaruh cukup luas. Untuk mendukung dakwah pengembangan agama
Islam, dibangun Masjid Agung Demak sebagai pusatnya. Kehidupan sosial dan
budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena
pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Sebagai pusat
penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan
Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang.
Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan
kerajaan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak.
Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan/para
wali/ulama dengan rakyat. Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui
pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren.
Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara
orang-orang Islam). masjid Demak Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal
yang menarik yang merupakan peninggalan dari kerajaan Demak. Salah satunya
adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari
pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas
pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan
Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw)
yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon. Dilihat dari
arsitekturnya, Masjid Agung Demak seperti yang tampak pada gambar 10 tersebut
memperlihatkan adanya wujud akulturasi kebudayaan Indonesia Hindu dengan
kebudayaan Islam. Salah satu peninggalan berharga kerajaan Demak adalah
bangunan Masjid Demak yang terletak di sebelah barat alun-alun Demak. Masjid
Agung Demak memiliki ciri khas yakni salah satu tiang utamanya terbuat dari
tatal ( potongan kayu), atap tumpang, dan di belakngnya terdapat makam
raja-raja Demak.
5.
Faktor – Faktor Penyebab Keruntuhan Kerajaan Demak
Setelah Sultan Trenggono, terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan
Demak, antara Pangeran Seda ing Lepen dan Sunan Prawoto (putra Sultan
Trenggana). Pangeran Sekar Sedo Lepen yang seharusnya menggantikan Sultan
Trenggono dibunuh oleh Sunan Prawoto dengan harapan ia dapat mewarisi tahta kerajaan.
Putra Pangeran Sedo Lepen yang bernama Arya Penangsang dari Jipang menuntut
balas kematian ayahnya dangan membunuh Sunan Prawoto. Selain Sunan Prawoto,
Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri ( suami Ratu Kalinyamat, adik
Sunan Prawoto). Pangeran Hadiri dianggap sebagai penghalang Arya Penangsang
untuk menjadi sultan Demak. Setelah berhasil membunuh Sunan Prawoto dan
beberapa pendukungnya. Naiknya Arya Penangsang ke tahta kerajaan tidak
disenangi oleh Pangeran Adiwijoyo atau Joko Tingkir , menantu Sultan Trenggono.
Arya Penangsang dapat dikalahkan oleh Jako Tingkir yang selanjutnya memindahkan
pusat kerajaan ke Pajang. Selain itu, Raden Patah kurang pandai menarik simpati
orang-orang pedalaman, bekas rakyat Kerajaan Majapahit. Raden Patah juga
terlalu banyak menyandarkan kekuataannya kepada masyarakat Tionghoa Islam.
Beliau berkeinginan keras untuk membentuk negara Islam Maritim. Sehingga
mengakibatkan, perhatiannya lebih dicurahkan untuk pembuatan kapal-kapal di
kota-kota pelabuhan demi pembentukan armada yang kuat. Dengan demikian berakhirlah
kekuasaan kerajaan Demakpada tahun 1568.

0 Response to "sejarah kerajaan demak"
Post a Comment