-->

tokoh walisongo part2



Sunan Kudus

            Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung. Sunan Kudus dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang tegas dalam menegakkan syariat. Namun, seperti wali yang lain, Sunan Kudus dalam berdakwah berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami kebutuhan apa yang diharapkan masyarakat. Itu sebabnya, Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, pande besi, pembuatan keris pusaka, dan mengajarkan hukum-hukum agama yang tegas. Sunan Kudus selain dikenal sebagai eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syaikh Siti Jenar, juga dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang memimpin penyerangan ke ibukota Majapahit dan berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan kerajaan tua yang sudah sangat lemah itu.[1]

Sunan Muria

            Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Sunan Muria merupakan tokoh Wali Songo yang paling muda usianya. Sebagaimana Sunan Kalijaga, Sunan Muria berdakwah melalui seni dan budaya. Sunan Muria dikenal sangat piawai menciptakan berbagai macam tembang cilik (Sekar Alit) jenis sinom dan Kinanthi yang berisi nasehat-nasehat dan ajaran tauhid. Seperti ayahnya, Sunan Muria juga piawai dalam mendalang dengan membawakan lakon-lakon carangan karya Sunan Kalijaga.[2]

Syeikh Maulana Malik Ibrahim

            Syaikh Maulana Malik Ibrahim, yang makamnya terletak di kampung Gapura di dalam kota Gresik, Jawa Timur, tidak jauh dari pelabuhan. Inkripsi makamnya yang menunjuk angka 882 H/1419 M, yaitu tahun wafatnya, menempatkannya sebagai salah seorang tokoh yang dianggap penyebar Islam tertua di Jawa.
            Secara keliru,  masyarakat memberi sebutan Syeikh Maghribi kepada Seikh Maulana Malik Ibrahim, sehingga memunculkuan asumsi bahwa beliau berasal dari Maghrib atau Maroko. Begitu juga pada Babad tanah Jawi yang disunting oleh JJ. Meinsma, secara kurang tepat menyatakan kesamaan Syeikh Maulana Malik Ibrahim dengan Syeikh Ibrahim Asmarakandi, sehingga muncul asumsi bahwa beliau berasal dari Samarkand. Sementara itu, Sir Thomas Stanford Raffles dalam History of Java menyatakan berdasarkan sumber-sumber lokal, Maulana Ibrahim adalah seorang pandhita ratu termasyhur asal Arab, keturunan Jenal Abidin (Zainal Abidin) dan sepupu raja Chermen telah menetap di Leran di Janggala bersama para penganut Islam yang lain.
            Berdasarkan pembacaan epigraf asal Prancis J.P. Moquette atas tulisan pada prasasti makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang ditulis dalam De Datum op den Grafteen van Malik Ibrahim te Grissee, disebutkan bahwa almarhum yang bernama al-Malik Ibrahim, yang wafat pada hari senin, 12 Rabiul Awal 822 H (8 April 1419 M), berasal dari bi Kashan, suatu tempat di Persia.
            Selain itu, Berdasarkan pembacaan inkripsi pada batu nisan makamnya, yang dibaca oleh Mocquette, yang ditandai dengan kalimat tauhid, ayat kursi, surah Ali Imron ayat 185, surah ar-Rahman ayat 26-27, surah at-Taubah ayat 21-22, terdapat penjelasamn bahwa tokoh bernama al-Malik Ibrahim adalah seorang tokoh terhormat yang berkedudukan sebagai berikut.
1.      Guru kebanggaan para pangeran (mafkharul umara’)
2.      Penasehat raja dan para Menteri (‘umdatus salathin wal wuzara’)
3.      Dermawan kepada fakir miskin (ghaisul masakin wal fuqara’)
4.      Yang berbahagia karena syahid (as-sa’id asy-syahid thirazu bahaid dawlah waddiin)
G.W.J Drewes dalam New Light on the Coming of Islam to Indonesia menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai salah seorang tokoh yang pertama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dan  merupakan wali senior di antara para wali lainnya. Menurut Baba ding Gresik, yang awal datang ke Gresik adalah dua bersaudara keturunan Arab, Maulana Mahpur dan Maulana Ibrahim dengan tetuanya Sayyid Yusuf Mahrabi beserta 40 orang pengiring. Mereka masih bersaudara dengan raja Gedah. Mereka berlayar ke Gerwarasi (Gresik) pada 1293 H/1371 M. Rombongan menghadap raja Majapahit Brawijaya, menyampaikan kebenaran Agama Islam. Sang raja menyambut baik kedatangan mereka tetapi belum berkenan untuk memeluk Islam. Lalu Maulana Ibrahim diangkat oleh Raja Majapahit menjadi sahbandar di Gresik dan diperbolehkan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa yang mau.
Sementara, sumber cerita lokal menuturkan bahwa daerah yang dituju Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang pertama kali saat berlabuh di tanah Jawa ialah desa Sembalo, di dekat Leran kecamatan Manyar Gresik, yaitu 9 kilometer di arah utara kota Gresik, tidak jauh dari kompleks makam Fatimah binti Maimun. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam dengan membangun desa Pasucinan, Manyar. Aktivitas pertamanya adalah berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan, desa Rumo. Setelah berdakwah di Sembalo, kemudian pindah ke kota Gresik, tinggal di desa Sawo. Setelah itu dia menghadap raja Majapahit di Kutaraja untuk berdakwah. Kendatipun Sang raja belum mau memeluk Islam, Syeikh Maulana Malik Ibrahim dianugrahkan sebidang tanah di pinggiran kota Gresik, yang kemudian menjadi desa Gapura. Di desa itulah dibangun pesantren untuk kaderisasi pemimpin umat dan penyebar Islam kepada masyarakat di wilayah Majapahit yang sedang mengalami kemerosotan akibat terjadinya perang saudara.[3]


[1] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 322
[2] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 350
[3] Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Jakarta: Pustaka IMaN, 2016). Hlm 72-77

0 Response to "tokoh walisongo part2"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel